Berita

Kepala SMAN 1 Giri Minta Pemberitaan Berimbang : “Mestinya Konfirmasi Dulu Sebelum Berita”

Avatar photo
68
×

Kepala SMAN 1 Giri Minta Pemberitaan Berimbang : “Mestinya Konfirmasi Dulu Sebelum Berita”

Sebarkan artikel ini

BANYUWANGI, RADARKAMELA.COM  – Pelaksanaan kegiatan Penerimaan Tamu Ambalan (PTA) dan Tradisi Taruna SMAN 1 Giri Banyuwangi Tahun 2026 yang berlangsung di kawasan Gerbang Raung, Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, pada Jumat (31/7/2026), mendapat penjelasan langsung dari pihak sekolah.

Kepala SMAN 1 Giri Banyuwangi, I Ketut Renen, S. Pd,,M.Si, memberikan klarifikasi terkait mekanisme persiapan dan pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa kegiatan tidak dilakukan secara tiba-tiba, melainkan telah melalui tahapan komunikasi dengan orang tua atau wali murid, khususnya peserta didik kelas X.

Menurut Ketut, rencana kegiatan telah disampaikan kepada para wali murid saat sosialisasi Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS). Dalam kesempatan tersebut, sekolah menyampaikan rencana pelaksanaan PTA dan tradisi taruna yang akan dilaksanakan di kawasan Gerbang Raung.

“Orang tua sudah kami sosialisasikan. Setelah itu kami tindak lanjuti dengan persetujuan melalui Google Form dan surat pernyataan dari orang tua. Jadi izin dari orang tua ada, per individu,” terang Ketut saat dikonfirmasi awak media.

Ia juga menjelaskan bahwa sekolah melakukan langkah mitigasi keselamatan dengan meminta orang tua menyampaikan riwayat kesehatan masing-masing peserta didik. Bagi siswa yang memiliki kondisi kesehatan tertentu dan dinilai kurang memungkinkan mengikuti kegiatan, sekolah memberikan pilihan untuk tidak mengikuti kegiatan.

“Bagi yang punya riwayat kesehatan kurang baik, boleh tidak ikut. Ada surat pernyataannya dari orang tua dan riwayat kesehatan juga sudah dikirim melalui Google Form,” jelasnya.

Dari proses tersebut, lanjut Ketut, terdapat sebanyak 23 peserta didik yang tidak mengikuti kegiatan. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi bukti bahwa sekolah tidak memaksakan seluruh siswa untuk mengikuti kegiatan di lapangan.

“Jadi tidak semua kami paksa ikut. Yang ikut adalah mereka yang memang mau ikut dan mendapatkan izin dari orang tua,” tegasnya.

Selain komunikasi dengan wali murid, pihak sekolah juga menyatakan telah menyampaikan pemberitahuan kepada Cabang Dinas Pendidikan terkait rencana kegiatan tersebut. Surat pemberitahuan itu, menurut Ketut, merupakan bagian dari mekanisme sekolah dalam memastikan kegiatan berjalan sesuai prosedur dan mendapatkan arahan pembinaan apabila diperlukan.

Dari aspek transportasi dan keberangkatan, sekolah juga mengaku melakukan langkah pengamanan. Ketut menyebut keberangkatan siswa mendapat perhatian dari pihak terkait, sementara sebagian orang tua juga memilih mengantar langsung putra-putrinya menuju lokasi kegiatan.

Setibanya di lokasi, siswa yang memiliki riwayat kesehatan tertentu juga tidak diwajibkan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Mereka diberikan pilihan untuk beristirahat dan tetap berada di tenda apabila kondisi fisiknya tidak memungkinkan mengikuti kegiatan lapangan.

Ketut menambahkan, tenda untuk peserta telah dipersiapkan sebelumnya dan bukan dibangun secara mandiri oleh siswa baru yang masih berada pada jenjang kelas X. Persiapan tenda tersebut melibatkan peserta didik kelas XI dan XII bersama tim Pramuka sekolah.

“Jadi tenda sudah disiapkan sebelumnya. Yang menyiapkan adalah anak-anak kelas XI dan XII bersama tim Pramuka sekolah,” ungkapnya.

Untuk memastikan kegiatan tetap memperhatikan aspek keselamatan, pihak sekolah juga menyampaikan bahwa pada rangkaian kegiatan berikutnya peserta akan mendapatkan pendampingan dari pengasuh atau pendamping dari tiga matra. Pendampingan tersebut dimaksudkan untuk membantu menjaga keamanan dan keselamatan peserta selama kegiatan berlangsung.

Atas munculnya informasi atau pemberitaan yang dinilai belum menggambarkan mekanisme kegiatan secara utuh, Ketut berharap adanya konfirmasi terlebih dahulu kepada pihak sekolah sebelum sebuah berita diterbitkan. Menurutnya, konfirmasi diperlukan agar informasi yang disampaikan kepada publik tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Mestinya konfirmasi dulu sebelum mengangkat menjadi berita. Kami tidak keberatan dikritik, tetapi kalau ada pemberitaan, tolong sesuai dengan apa yang sebenarnya terjadi di sekolah,”ujarnya.

Ketut juga mengingatkan pentingnya menjaga marwah lembaga pendidikan. Ia menilai pemberitaan yang tidak didahului proses konfirmasi berpotensi menimbulkan Framing dan merugikan lembaga pendidikan apabila informasi yang disampaikan tidak utuh.

“Jangan sampai dikorbankan lembaga yang menjadi pusat pendidikan Banyuwangi ini. Kita bersama-sama harus menghormati dan menjaga marwahnya,” katanya.

Pihak sekolah pada prinsipnya menyatakan terbuka terhadap konfirmasi dan klarifikasi dari media. Ketut berharap setiap informasi mengenai kegiatan sekolah, khususnya yang menyangkut peserta didik dan keselamatan mereka, dapat disampaikan secara utuh berdasarkan keterangan dari berbagai pihak.

Dengan adanya klarifikasi tersebut, pihak SMAN 1 Giri Banyuwangi menegaskan bahwa pelaksanaan PTA dan Tradisi Taruna Tahun 2026 telah dipersiapkan melalui tahapan sosialisasi, persetujuan orang tua, pendataan riwayat kesehatan, seleksi peserta berdasarkan kondisi kesehatan, pemberitahuan kepada Cabang Dinas Pendidikan, hingga persiapan pendampingan dan fasilitas di lokasi.
Sekolah juga menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan peserta didik menjadi salah satu pertimbangan utama dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.

(Tim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *