PAPUA, RADARKAMELA.COM –
Tanah Papua hari ini bukan lagi sekadar tanah damai, melainkan medan derita akibat eskalasi kejahatan kemanusiaan yang biadab. Konflik sosial antar-Orang Asli Papua (OAP) hingga kekerasan berdarah dalam situasi konflik bersenjata antara TNI/POLRI dan TPNPB/OPM telah merenggut nyawa, meremukkan keluarga, dan menyebarkan teror ketakutan yang tak berkesudahan.
Sangat memuakkan dan tidak masuk akal ketika sesama manusia yang lahir dari rahim persaudaraan justru saling bantai, menyiksa, dan menghabisi nyawa. Persoalan sepele, dendam kusumat, sentimen suku, hingga syahwat politik murahan terus dibayar dengan darah manusia tak berdosa yang sama sekali tidak tahu apa-apa.
Kita harus melayangkan gugatan keras kepada nurani kita sendiri : Apakah kita diciptakan hanya untuk saling mencabut nyawa? Apakah Tuhan meniupkan napas kehidupan ke dalam raga manusia agar kita saling memangsa seperti binatang buas di tengah hutan?
Ingat, hidup ini hanya satu kali dan tidak ada tiket pulang! Tidak ada satu pun manusia, kelompok, atau penguasa di muka bumi ini yang berhak merampas nyawa sesamanya atas nama identitas, perbedaan pandangan, ataupun kepentingan politik yang kotor, Selasa (27/10/2026).
Berdasarkan Kejadian 1:27, manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, yang berarti setiap jengkal nyawa memiliki martabat ilahi yang suci. Menginjak-injak, melukai, dan merampas nyawa sesama manusia adalah bentuk pengkhianatan paling nyata terhadap titah Sang Pencipta.
Tanah Papua sudah terlalu kenyang dengan tangisan air mata para janda, anak yatim, dan para pengungsi korban kebiadaban. Papua sama sekali tidak butuh generasi pewaris dendam kesumat yang doyan mengangkat senjata, melainkan generasi berani yang menghentikan siklus kekerasan dan menegakkan keadilan mutlak.
Kepada seluruh aktor kekerasan—baik aparat keamanan, kelompok bersenjata TPNPB/OPM, maupun kelompok-kelompok masyarakat—hentikan segera aksi barbar kalian! Keselamatan warga sipil adalah harga mati yang tidak bisa ditawar, dan setiap pelaku pelanggaran HAM harus diseret ke meja hijau tanpa kompromi!
Kita tidak boleh membiarkan pembunuhan dan kekejaman dinormalisasi menjadi rutinitas harian yang dilupakan begitu saja setelah berita surut. Di balik setiap nama korban yang gugur, ada masa depan yang dihancurkan dan jeritan keluarga yang menuntut keadilan sejati di atas tanah leluhur mereka.
Tokoh-tokoh adat dan pemuka agama harus keluar dari zona aman, berhenti menjadi penonton bisu, dan bertindak tegas sebagai pembawa damai yang memutus rantai provokasi busuk. Jangan biarkan anak cucu kita mewarisi kebencian; didik mereka untuk melawan kejahatan dengan keteguhan moral dan kasih yang menyelamatkan.
Sesuai firman Tuhan, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” (Roma 12:21). Hidup hanya sekali, maka gunakan sisa nafas ini untuk menyelamatkan sesama, menegakkan keadilan, dan membebaskan Tanah Papua dari cengkeraman kegelapan kekerasan!
Sumber berita dari : Pdt. Deserius Adii, M.Th.
(Departemen Keadilan dan Perdamaian Sinode Gereja Kemah Injil / KINGMI di Tanah Papua)












