Berita

Dugaan Bayi Meninggal Pasca Persalinan di Bomo, Pemilik Rumah Bersalin Beri Penjelasan

49
×

Dugaan Bayi Meninggal Pasca Persalinan di Bomo, Pemilik Rumah Bersalin Beri Penjelasan

Sebarkan artikel ini

RADARKAMELA.COM
BANYUWANGI – Peristiwa dugaan meninggalnya bayi pasca proses persalinan di Desa Bomo, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, terus bergulir. Pemilik rumah bersalin berinisial ID akhirnya memberikan penjelasan terkait kejadian tersebut.

ID membenarkan adanya proses persalinan terhadap Y, istri dari C. Namun, menurut keterangannya, dirinya tidak dapat hadir secara langsung saat proses persalinan karena sedang dalam perjalanan pulang. Di tengah perjalanan, kendaraan yang digunakannya mengalami ban bocor.

Ketika dikonfirmasi mengenai informasi bahwa bayi tersebut diduga telah meninggal sebelum proses persalinan berlangsung, ID juga membenarkannya.
Menurut ID, pihak keluarga sebelumnya sempat meminta agar kondisi bayi diperiksa di rumah sakit,.untuk memastikan Berdasarkan keterangan yang diterima ID dari pihak rumah sakit, bayi dinyatakan mengalami intrauterine fetal death (IUFD) atau meninggal di dalam kandungan.

“Berdasarkan pemeriksaan dan keterangan dari pihak rumah sakit, bayi dinyatakan telah meninggal di dalam kandungan (IUFD), dengan perkiraan sudah terjadi sekitar 1–2 hari sebelum proses persalinan. Saat itu pihak keluarga juga meminta agar bayi dibawa ke rumah sakit untuk memastikan kondisi tersebut,” jelas ID. (22/09)

Saat awak media kembali meminta keterangan pada 23 september 2026, untuk mendapatkan keterangan terkait nama dan alamat rumah sakit, dokter, dan hasil keterangan resmi kematian bayi tersebut, ID tidak memberikan jawaban.

Namun, keterangan ID berbeda dengan apa yang disampaikan C, suami Y, ketika ditemui di kediamannya. (16/09)
C mengaku sebelumnya meyakini kondisi calon bayinya masih baik selama berada di dalam kandungan istrinya. Ia juga menyebut masih merasakan adanya interaksi atau gerakan dari bayi hingga menjelang proses persalinan.
C bahkan menyampaikan bahwa setelah bayi dilahirkan, terdapat anggota keluarga yang melihat adanya gerakan pada tubuh bayi.

“Kalau nangis nggak, kalau gerak ia, waktu itu yang membantu banyak, nenek saya, ibuk saya, tante saya, melihat langsung”, tegasnya

Selain itu, C juga mempertanyakan profesionalitas tenaga medis yang di percaya ID untuk melakukan proses penanganan persalinan. Menurutnya, terdapat dugaan bahwa asisten yang menangani proses persalinan istrinya kurang profesional dalam memberikan penanganan.

“Prosesnya itu, waduh ngeri, kayak terlalu di paksa nariknya, harusnya kalu susah kluarnya di sobek di buatkan jalan”, jelentreh C

Perbedaan keterangan tersebut kini menjadi bagian penting yang perlu diklarifikasi lebih lanjut, terutama terkait kondisi bayi sebelum persalinan, hasil pemeriksaan medis, waktu terjadinya kematian dalam kandungan, serta prosedur penanganan persalinan.

Padahal untuk memastikan penyebab dan kronologi secara objektif, diperlukan keterangan serta dokumen medis dari tenaga kesehatan maupun fasilitas kesehatan yang melakukan pemeriksaan.

Hingga berita ini ditayangkan, keterangan dari masing-masing pihak masih menjadi bagian dari informasi yang perlu diverifikasi lebih lanjut. Belum di dapat kesimpulan mengenai penyebab maupun pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa ini ,sebelum terdapat hasil pemeriksaan medis dan keterangan resmi dari pihak berwenang. (DOL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page